Borobudur Jadi Kiblat Wisata Umat Budha Seluruh Dunia?

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya , Rizal Ramli mengusulkan Candi Borobudur yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, bisa dijadikan kiblat wisata bagi umat Budha dari seluruh dunia.

“Kami ingin bikin Borobudur jadi Makah-nya orang Budha. Ibaratnya buat orang Islam, harus naik haji dulu sebelum meninggal,” kata Rizal Ramli seperti dikutip Antara baru-baru ini.

Rizal Ramli berdalih, Candi Borobudur jauh lebih indah ketimbang Candi Angkor Wat di Kamboja. Oleh karena itu, Rizal Ramli ingin Candi Borobudur menjadi tujuan religius umat Budha se-dunia.

“Kalau orang Kristen sebelum meninggal ke Jerusallem, orang Islam naik haji dulu ke Mekah, nah orang Budha kudu ke Borobudur,” ujar Rizal Ramli dengan bangga.

Dengan begitu, Bobobudur kemungkinan akan lebih banyak digunakan untuk kegiatan religius. “Tapi kita harus perbaiki,” ujar Rizal Ramli.

Bukan Usulan Baru

Sesungguhnya usulan Rizal Ramli itu bukan baru. Sebab sebelumnya Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo ketika peringatan 200 tahun Candi Borobudur pada 2014 lalu pernah mengajukan usulan serupa. Gubernur dari PDIP ini mengusulkan agar Candi Borobudur dijadikan semacam Kabah di Tanah Suci Makah al Mukarramah, dimana nantinya Borobudur akan dijadikan sebagai tempat ibadah atau ritual bagi pemeluk Budha di seluruh dunia setiap tahunnya.

Dengan harapan jika kelak terwujud, maka Indonesia khususnya Jawa Tengah akan menjadi daerah tujuan wisata bagi pemeluk Budha di seluruh dunia yang otomatis akan mendatangkan devisa yang amat besar sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat di dan sekitar candi Budha terbesar di dunia itu.

Gubernur yang mengaku beragama Islam itu menyamakan Barobudur dengan Kabah di Makah, dimana jutaan umat Islam di seluruh dunia setiap tahunnya melaksanakan ibadah haji dengan mendatangkan devisa amat besar bagi Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia sehingga menjadi negara yang kaya raya.

Padahal kalau kita lihat, sesungguhnya Pemerintah Saudi Arabia menjadi kaya raya bukan karena adanya ibadah haji, tetapi karena menjadi negara dengan cadangan minyak bumi terbesar di dunia.

Jadi menurut Ganjar Pranowo, Candi Borobudur nantinya akan dijadikan tempat ritual religi setiap tahun bagi pemeluk Budha di seluruh dunia yang saat ini diperkirakan berjumlah 300 juta orang.

Bahkan saking semangatnya, Ganjar Pranowo yang pernah bersekolah di SMA Katolik De Britto Jogjakarta itu sampai menegaskan usulannya itu di hadapan para kyai dan santri Ponpes API di Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah pada Pidato Kebudayaaan tahun 2014 lalu.

Untuk itu dia meminta para santri dan kyai Ponpes yang dipimpin KH M Yusuf Chudlori itu pada khususnya dan umat Islam pada umumnya agar memberi ruang seluas-luasnya bagi pemeluk Budha agar dapat menjalankan prosesi ritual keagamaan di Candi Borobudur setiap tahunnya.

Untuk merevitalisasiî idenya tentang Candi Borobudur ini, maka Gubernur Ganjar Pranowo akan melaksanakannya pada beberapa tahap, yang meliputi pengkajian sejarah, pengajuan gagasan ke pemerintah pusat, menggelar konferensi Budha dan antarumat beragama, penegasan posisi Pemprov Jawa Tengah serta manajemen pengelolaan.

Tahap berikutnya Ganjar Pranowo menginisiasi gagasannya ke pemerintah pusat yang saat ini dipimpin sahabatnya, Presiden Jokowi. Langkah selanjutnya dirinya akan melakukan dialog, kajian, atau semacam konferensi guna menuju kesepakatan menjadikan Candi Borubudur sebagai tempat ibadah suci.

Untuk itu pemerintah harus berinisiatif menawarkan gagasan ke komunitas Budha, termasuk ke Konferensi Agung Sangha Indonesia (organisasi pemuka agama Budha Indonesia), Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi), dan organisasi umat Budha se-dunia.

Tidak hanya itu, dialog antarumat beragama juga diusulkannya digelar guna mencegah gesekan. Bahkan dirinya juga mengusulkan agar dibangun Bandara baru yang menjadi alternatif bagi Bandara Ahmad Yani di Semarang dan Bandara Adisucipto di Yogyakarta. Sehingga nantinya bisa menampung jutaan pemeluk Budha dari seluruh dunia yang akan beribadah tahunan ke Candi Borobudur.

Usulan berbahaya

Sejak para Walisongo yang dibantu Raden Patah Sultan Kerajaan Islam Demak yang juga menjadi anggota Majelis Walisongo melacarkan dakwahnya 500 tahun lalu, Pulau Jawa yang sebelumnya didominasi pemeluk Hindu dan Budha, berubah menjadi pulau dengan mayoritas umat Islam hingga sekarang ini, meski telah 350 tahun dibawah kekuasan Kolonial Belanda yang nasrani.

Karena umat Islam dikenal sebagai umat yang toleran, bekas tempat ritual Candi Hindu dan Budha yang telah ditinggalkan pemeluknya, bukannya dihancurkan tetapi malah dikubur dibawah tanah, sehingga sekarang banyak ditemukan bekas candi yang terkubur dibawah tanah. Salah satunya Candi Borobudur yang ditemukan arkeolog Belanda tahun 1814 lalu di Magelang. Sedangkan sebagian kecil masyarakat yang tetap memeluk Hindu, akhirnya pindah ke Bali sehingga mereka mayoritas disana.

Sementara itu salah seorang tokoh Hindu, Sabdo Palon, ketika akan meninggalkan Pulau Jawa sempat bersumpah akan membalas kekalahan Hindu dan Budha di Pulau Jawa dengan mangatakan: “Suatu saat nanti Hindu dan Budha akan kembali mayoritas dan berkuasa di Pulau Jawa.”

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, apa dampak buruknya bagi mayoritas umat Islam di Pulau Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya jika usulan Rizal Ramli dan Ganjar Pranowo itu benar-benar terwujud dan dilaksanakan Pemerintahan Presiden Jokowi.

Pertama, seharusnya Candi Borobudur tidak boleh digunakan sebagai tempat ritual bagi pemeluk Budha meski ketika Waisak sekalipun. Sebab Candi Borobudur sudah ditetapkan oleh UNESCO dan PBB sebagai warisan kebudayaan dunia, sehingga bukan lagi milik pemeluk Budha dan sudah menjadi museum internasional.

Candi Borobudur bukan lagi menjadi tempat ritual bagi pemeluk Budha tetapi telah menjadi tempat tujuan wisata dunia. Bahkan Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke 9 M oleh Dinasti Syailendra itu pernah ditetapkan PBB menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

Kedua, tidak menutup kemungkinan sumpah dari Sando Palon itu akan menjadi kenyataan, dimana Hindu dan Budha akan kembali mayoritas dan berkuasa di Pulau Jawa. Meski sekarang umat Islam mayoritas di Pulau Jawa, tetapi tingkat keimanan dan ketaqwaan mereka masih sangat lemah.

Dengan iming-iming harta benda duniawi seperti yang sering dilakukan perkumpulan pemeluk Budha “Budha Tsu Chi” dari Taiwan dengan melancarkan aksi bantuan sosialnya, umat Islam yang dalam kondisi lemah iman dan ekonomi bisa menjadi murtad. Apalagi sekarang pemeluk Budha sudah memiliki Televisi Nasional, DAAI TV milik tokoh wanita pengusaha Budha, Siti Hartati Murdaya yang pernah ditahan KPK karena terlibat kasus korupsi beberapa waktu lalu.

Ketiga, dengan kedatangan para pemeluk Budha dari seluruh dunia untuk melakukan ritual tahunan di Candi Borobudur, terutama dari para pengusaha kaya dari Cina, Korsel, Taiwan, Hongkong, Singapura, Myanmar serta Thailand dengan membawa modal besar; maka mereka akan memiliki kontribusi besar untuk menjadikaan Pulau Jawa sebagai milik umat Budha seperti beberapa abad lalu. Karena mayoritas rakyat Indonesia berada di Pulau Jawa, maka siapapun yang berhasil menguasai Pulau Jawa, pasti akan menguasai Indonesia.

Kalau Budha sampai berhasil menguasai Pulau Jawa, maka mereka akan berusahaa keras mem-Budha-kan sekaligus menguasai Indonesia, dan ini akan menjadi penderitaan berat bagi umat Islam Indonesia. Jika hal itu sampai terjadi, maka NKRI dalam bahaya, sebab sudah terbukti dalam sejarah hanya umat Islamlah yang mampu dan bersedia mempertahankan keutuhan NKRI sampai titik darah penghabisan.

Keempat, meski kelihatannya para pemeluk dan Biksu Budha itu lemah lembut dan toleran, tetapi sesungguhnya mereka itu amat kejam terutama terhadap umat Islam jika mereka mayoritas dan berkuasa. Seperti penderitaan sekarang ini yang dialami umat Islam di negara yang mayoritas pemeluk Budha yakni Myanmar, Thailand dan Sri Lanka. Hampir setiap hari mereka menjadi korban pembantaian dan pelanggaran HAM berat dari para pemeluk Budha yang didukung para Biksu dan pemerintahnya.

Untuk itu jangan sampai usulan dari Menko Bidang Kemaritiman Rizal Ramli dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo itu benar-benar terwujud, maka umat Islam dan para pemimpin Islam serta partai politik Islam harus bersatu padu untuk menolaknya. Sebab nantinya dikhawatirkan bisa membahayakan keutuhan NKRI dan menjadi ajang pemurtadan bagi umat Islam yang mayoritas mutlak di Indonesia dan khususnya Pulau Jawa.0 pribumi