KNTI: Pancasila Hanya Jargon Penguasa Untuk Mencari Pembenaran

Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menilai jika Pancasila ada, hanya sebagai jargon bagi penguasa untuk mencari pembenaran, tidak pernah ada pengamalan terutama ketika berhadapan dengan rakyat miskin dan pesisir.

Hal itu terkait dengan nasib masyarakat pesisi gusuran reklamasi di teluk Jakarta yang tidak kunjung jelas kehidupannya.

“Dulu dan kini Pancasila jadi jargon, dengan atas nama Pancasila dalih (penguasa) menggusur untuk (kepentingan) proyek skala besar yang ada saat ini,” kata Ketua Bidang Pengembangan Hukum dan Pembelaan Nelayan KNTI, Martin Hadiwinata memaknai hari lahirnya Pancasila, di Jakarta, Minggu (4/6)

“dan termasuk dengan dalih Pancasila penghidupan pesisir tergusur karena reklamasi dan perampasan penghidupan nelayan tradisional,” tambahnya.

Menurut dia, penguasa atau pemerintah yang diberikan kewenangan mengeluarkan kebijakan, acap kali bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, seperti yang dirasakan masyarakat nelayan korban penggusuran reklamasi Teluk Jakarta.

“Yang seharuanya diketahui, ada ada dua kata adil dalam sila kedua dan kelima Pancasila yang harusnya menjiwai semangat poros maritim hari ini,” ujar dia.

“Namun, Pancasila diterjemahkan tidak bisa hanya terkait kebhinekaan tapi tutup mata terhadap ketimpangan dan penghancuran sumber penghidupa,” pungkasnya.0 akt