MRI: PDIP Mitra Strategis Cina untuk Kuasai Indonesia

PARTAI Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) disebut-sebut sebagai partai politik yang berwarna komunis gaya baru. Tudingan ini dilayangkan oleh Ketua Presidium Musyawarah Rakyat Indonesia (MRI), Yudi Syamhudi Suyuti.

Menurut Yudi, PDIP seperti sedang mengulang sejarah untuk menguatkan doktrin Nasakom yang dijadikan pegangan untuk memukul lawan-lawan politiknya. Ia menyebut pernyataan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri yang pernah melayangkan pernyataan Islam sebagai ideologi tertutup yang meramalkan masa depan.

Megawati, lanjut Yudi, dengan terang menyebut bahwa ideologi tertutup ini sebagai self fulfilling prophecy yang meramalkan ada kehidupan lain setelah kehidupan dunia.

“Jika ditarik garis benang merahnya, apa yang hendak dilakukan PDIP sebagai partai yang mengaku berhaluan Nasionalis Marhaenisme ini, dapat kita tarik satu garis pemahaman bahwa PDIP sedang menegaskan suatu garis merah partainya,” jelas Yudi kepada Media melalui pernyataan tertulis di Jakarta, Rabu (14/6).

Garis merah ini, jelas Yudi, menegaskan bahwa PDIP merupakan partai sekuler yang berhaluan kiri. Namun, parahnya, haluan kiri tersebut sebetulnya bukan sebagai garis yang dibangun untuk membangun kekuatan rakyat mencapai kesejahteraan-kesejahteraannya seperti doktrin komunisme.

Menurut Yudi, haluan kiri ini hanya merupakan doktrin yang digunakan sebagai mitra Partai Komunis Cina. Yudi sendiri mengatakan bahwa hubungan PDIP dan PKC mulai menguat untuk menguasai Indonesia.

“PDIP memang menargetkan kekuasaan dominan di Indonesia setelah berhasil memenangkan Jokowi sebagai Presiden. Perjuangan PDIP semakin agresif, ketika mencalonkan Ahok sebagai calon gubernur, di mana konon ada indikasi keterlibatan PKC sebagai sister’s company-nya atau organ kameradnya,” terang jebolan UNS ini.

Di sinilah sebenarnya garis benang merah PDIP menjadi gambaran dari manifestasi Komunis Gaya Baru. Terlebih, sangat kentara jika Presiden Joko Widodo sangat memprioritaskan RRC dalam berbagai proyek infrastruktur yang sedang digiatkan pemerintah.

“Seolah PKC dan RRC sedang menjadikan Indonesia sebagai lahan kekuatan kemakmuran untuk rakyat bangsanya dengan menggunakan tiga kekuatan inti: PDIP, Jokowi dan Konglomerat Taipan,”

Lebih lanjut, Yudi menjelaskan bahwa PDIP yang merupakan partai yang menggemborkan Nasionalisme sebagai instrumen politik regenerasi Soekarno, justru telah dijadikan instrumen politik oleh konglomerat taipan yang juga telah berhasil menjadikan Jokowi sebagai kekuatan politik untuk mencapai misi-misi kekuasaannya.

Oleh karenanya, secara tegas, Yudi menyatakan bahwa hal ini harus dicegah oleh seluruh elemen masyarakat. Ia beranggapan bahwa manuver-manuver di atas masih dapat dibatasi melalui cara yang konstitusional.

“Dan untuk melakukan langkah tegas konstitusional ini haruslah dicapai melalui acara yang juga konstitusional, yaitu dengan Sidang Istimewa,” pungkasnya.0 akt