UJIAN BERAT SPALLETTI DI INTER

Sangat adaptif pada pendekatan taktik, Luciano Spalletti diharapkan mampu mengeluarkan kemampuan terbaik skuat Inter pada musim depan. Itu tentu ujian yang sangat berat bagi mantan bos AS Roma itu.

Inter Milan  akhirnya menunjuk Luciano Spalletti untuk menukangi tim selama dua musim ke depan, tentu saja jika tidak didepak lebih cepat oleh manajemen.

Lalu, perubahan apa yang akan dibawa oleh mantan pelatih Zenit St Petersburg itu di Giuseppe Meazza? 

Dengan skuat yang ada di Inter saat ini, besar kemungkinan, tidak banyak perubahan yang akan dilakukan oleh Spalletti, mengingat kebiasaan pelatih berkepala plontos itu mengadaptasi taktik dengan pemain yang ada di skuat.

Kembali ke sepuluh tahun belakang, pada periode pertama bersama AS Roma tahun 2005 hingga 2009, Spalletti menerapkan taktik inspirasional dengan memasang Francesco Totti sebagai 'False 9'.

Strategi itu mengantar klub ibukota Italia menjadi runner-up Serie A dua musim beruntun dan juga menembus babak perempat-final Liga Champions pada 2008, kepiawaian dan kualitas Totti sebagai pusat permainan klub pada posisi tersebut mendapat dukungan total dari pemain-pemain seperti Mirko Vucinic,  Mancini, Rodrigo Taddei dan juga Diego Perrotta. 

Namun ketika hengkang ke Zenit, Spalletti tidak lantas latah langsung menerapkan strategi 'false 9' itu di Rusia. Ia terlebih dahulu mengamati setiap kemampuan yang dimiliki anak asuhnya, hingga memutuskan untuk memakai formasi tradisional dengan mengandalkan Danko Lazovic dan Alexander Kerzhakov sebagai ujung tombak secara bergantian.

Perubahan taktik itu tidak mengubah kualitas permainan skuat besutan Spalletti, dalam lima tahun di Rusia, ia mengantarkan Zenit mengangkat empat trofi, termasuk dua gelar liga beruntun pada 2011 dan 2012.

Nihil gelar di tiga musim pamungkas, membuatnya terdepak dan ditarik kembali oleh Giallorossi pada Januari 2016. Reuni kembali dengan Totti, bintang 'false 9'-nya pada periode pertama di Olimpico, Spalletti lagi-lagi enggan mencuatkan peran tersebut. Ia menyadari Totti yang sekarang bukan lagi Totti yang dulu seiring usianya yang semakin memakan stamina.

"Kenangan yang mengikat saya dengan Totti yang paling banyak adalah kualitas dia dan karakter yang ia tunjukkan ketika di lapangan. Kecepatan, teknik, fisik dan semua aspek penting bagi pemain, tetapi karakter adalah hal fundamental," ujar Spalletti.

"Dia selalu berada di depan dalam performa apapun, mungkin menetralisir kualitas pemain lain, tetapi bagi klub, pelatih dan fans, Roma yang harus menang.

"Totti telah banyak meraih kemenangan, tetapi dia sendiri tidak cukup dan dia tahu hal tersebut. Kami di sini kembali mengatakan, Roma belum meraih gelar juara."

Spalletti memasang striker tradisional pada periode keduanya di Olimpico, mengandalkan sosok Edin Dzeko di dukung pemain sayap lincah seperti Mohamed Salah dan Stephan El Shaarawy. 

Taktik itu mampu membawa Roma menempati posisi ketiga di musim 2015/16 meski sempat terpuruk di papan tengah dan musim lalu mereka  menjadi klub terakhir yang berpeluang menjegal Juventus untuk mempertahankan Scudetto, sekaligus menjadi tim dengan jumlah gol terbanyak kedua dan kebobolan paling sedikit kedua.

Dengan fleksibilitas taktik, Spalletti kemungkinan tidak akan banyak mengubah formasi ideal 4-3-3, dengan pemain di lini depan tentu trio Ivan Perisic, Mauro Icardi dan Antonio Candreva. Tapi, nama pertama memiliki kans hengkang yang cukup besar di musim panas ini menyusul ketertarikan Manchester United, Eder bisa menjadi opsi jika klub gagal mendatangkan Federico Bernardeschi sebagai pengganti.

Racikan lini tengah juga akan sangat menarik untuk ditunggu, Joao Mario, Geoffrey Kondogbia, Roberto Gagliardini dan Marcelo Brozovic diperkirakan bakal berebut posisi utama dengan gelandang-gelandang baru yang diincar klub. Lucas Moura, James Rodriguez hingga Javier Pastore masuk dalam bidikan.

Posisi Radja Nainggolan sebagai destroyer dan juga penembak jarak jauh di skuat Roma akan sulit dicari penggantinya, tetapi Kondogbia memiliki atribut yang lebih dekat untuk peran itu. Pemain asal Prancis itu mulai mampu menunjukkan performa terbaik sejak kedatangan Stefano Pioli, meski sempat merosot tajam di akhir musim. Brozovic mungkin lebih unggul dalam tembakan jarak jauh, tetapi visi, pengambilan keputusan dan atribut defensif yang kurang, akan membuatnya sulit untuk mengisi pos starter.

Di lini belakang, perubahan mutlak harus terjadi. Kelemahan Inter selama beberapa tahun terakhir ada di posisi ini dan belum terpecahkan hingga musim lalu. Antonio Rudiger dikabarkan bakal mengikuti Spalletti ke Meazza, kemampuannya yang mampu mengisi semua pos di lini belakang akan menjadi modal berharga bagi klub.

Rudiger menjadi pemain yang sangat diandalkan Spalletti di Roma, ketika tim melakukan transisi menyerang dan bertahan. Sosok berusia 24 tahun itu, kerap bergeser ke tengah sehingga klub memakai skema tiga bek ketika menyerang dan kembali menutup posisi sayap saat mendapat tekanan.

Inter sebenarnya memiliki pemain yang cocok untuk peran tersebut, yaitu Juan Jesus, sebelum ia diboyong oleh Spalletti ke Olimpico musim panas lalu, dengan alasan yang sama. Namun, bagaimanapun juga, Rudiger dinilai memainkan posisi itu lebih baik dari sosok asal Brasil itu. 

Dengan banyaknya PR yang harus dirampungkan sebelum kompetisi kembali berjalan, mampukah Spalletti kembalikan kejayaan Inter musim depan? Sulit menjawab pertanyaan itu saat ini, tetapi Spalletti sudah memberikan salah satu kunci jika La Beneamata ingin bangkit,.

"Jelas kami harus kerja keras. Ada hal-hal yang harus kami benahi," ujar Spalletti. "Saya ingin melihat pemain ingin melakukan hal cantik untuk tim ini.

"Jika Anda tidak berlatih 100 persen, mustahil untuk menang. Ada banyak klub kuat dan pemain-pemain berkualitas seperti kami yang memberikan segalanya." O jon