Investigasi

Berita yang umum seperti berita yang diperoleh dari

jumpa pers tentu kurang menarik dibanding berita yang

eksklusif alias yang khusus. Begitu kata Kumar (bukan

nama sebenernya), salah satu pemimpin redaksi sebuah

koran terbitan Jakarta.

"Tetapi, buat dapetin berita yang eksklusif, tentu

kita perlumelakukan investigasi (penyelidikan). Gua

kepengen elu bikin berita investigasi soal bencong di

Taman Lawang," kata Kumar, kepada redaktur bidang

perkotaan, Sumo.

"Mudah-mudahan Bos tau bahwa buat bikin berita

investigasi diperluin waktu yang cukup lama dan

mungkin juga dana," kata Sumo, yang namanya doang

mirip olahraga tradisional Jepang yang dimaenin orang

berbadan gede, yang badannya cuman selembar.

"Iya, gua tau. Elu bisa pake mobil kantor dan nanti

elu bisa minta duit seperlunya kepada bagian

keuangan," Kumar pun nutup pertemuan itu.

Sumo segera merentahin anak buahnya, Jalil, buat ke

Taman Lawang. Lantaran masih wartawan baru, Jalil

minta didampingin Sumo. Sumo kagak bisa nolak. Dia

pikir, kasihan juga Si Jalil, yang masih

kekanak-kanakan dan musti berhadapan dengan dunia

malem yang keras.

Kabar bahwa mereka mau bikin investigasi ke Taman

Lawang rupanya nyampe juga ke kuping Misan, wartawan

kriminal yang punya penyakit insomnia alias susah

tidur.

"Gua ngikut, ah," kata Misan, yang gigi depan bagian

atasnya udah pada rontok padahal umurnya baru 30-an.

"Boleh, tapi elu jangan ikut campur, ya?" pesen Sumo.

Malem itu, mereka pun naek mubil ke Taman Lawang. Sumo

dan Jalil duduk di depan, sedangkan Misan duduk di

bangku belakang.

"Turunin kaca, oi, kita liat pemandangan," kata Sumo,

yang megang kemudi.

Begitu, mobil mereka berenti, mereka langsung

kerumunin bencong-bencong ibukota. Sumo ngajak mereka

salaman. Tindakan Sumo diikutin oleh Jalil. Misan

sendiri senyum-senyum aja duduk di bangku belakang.

Misan pake topi yang menutupi mata dan sebagian

wajahnya.

Sumo dan Jalil ngobrol sama bencong tanpa turun dari

mobil. Salah satu bencong yang paling susah laku,

Yoyom, rupanya tertarik pada Misan. Buktinya, Yoyom

nyamperin Misan dan membuka topi yang menutupi wajah

Misan.

"Bujug buneng! Bangun-bangun makan nasi ama garem!

Kong (Kek) inget, Kong, udah tua, carilah pahala,

jangan nyari paha di Taman Lawang, " kata Yoyom

sembari lari ninggalin Misan.

"Siapa yang engkong-engkong? Umur gua baru 30, tau!"

jawab Misan sembari ngasih liat otot lengennya yang

bersepir kayak binaragawan.

Sumo, Jalil dan bencong-bencong ibukota pada ketawa

ngeliat Misan dianggep engkong-engkong (kakek-kakek)

karena gigi depannya yang ompong semua.

"Adaw! Maap, kirain engkong-engkong," kata Yoyom

sembari menghampiri Misan lagi, sembari memperlihatkan

pahanya yang mulus tapi betisnya mirip gebukan maling.

(Jebod)