Anak Baru

Seperti kebanyakan anak-anak, Nanil (bukan nama

sebenernya) suka sekolah, bergaul dan maen sama

anak-anak sebayanya. Salah satu permaenan favorit

mereka adalah berenang di kali.

Hampir setiap hari, sepulang sekolah, Naniel dan

kawan-kawannya yang tinggal di pulau Sumba, Nusa

Tenggara Timur, mampir di kali buat berenang. Setelah

mereka merasa capek dan lapar, barulah mereka pulang.

Suatu hari, desa Naniel kedatengan seorang anak kota,

sebut aja bernama Jimmy. Bapaknya Jimmy adalah seorang

polisi, yang sebelonnya tugas di salah satu kota di

Bali.

Sebagai anak kota, tentu aja Jimmy punya banyak

kelebihan dibanding Naniel dkk yang tinggal di desa,

mulain dari cara bicaranya, lagu-lagu yang dia bawain

dalem pelajaran kesenian di sekolah, pakean, sepatu

dan masih banyak lagi. Kebetulan, Jimmy kemudian masuk

di sekolah yang sama dengan Naniel. Bedanya, waktu itu

Naniel di kelas VI SD, sedangkan Jimmy di kelas II

SMP. Tetapi, sekolahan mereka berada di perguruan dan

kompleks sekolahan yang sama sehingga mereka ketemu

waktu jam istirahat.

"Lu bisa berenang enggak?" tanya Naniel.

"O, jago. Gua biasa berenang di kolam renang. Elu kalo

berenang di mana? Di kali ya?" Jimmy balik nanya,

Naniel dkk mengangguk dengan malu.

"Biar di kali, Andreas berenangnya jago dan cepet.

Soalnya, adeknya ikut ngedayung," kata Naniel, enggak

mau kalah, sembari nunjuk kemaluan salah satu temennya

Andreas yang badannya kayak anak-anak tapi udah mulain

numbuh kumis.

"Bo'ong, bo'ong, gua kagak bisa berenang," kata

Andreas, merendah, eh, minder.

"Oke, entar pulang sekolah kita berenang ya?" tantang

Jimmy.

Bener juga, sepulang sekolah, mereka mampir di kali.

Naniel dkk nyebur duluan, lewat pinggir. Sementara

itu, Jimmy ngambil ancang-ancang dan siap terjun dari

jembatan.

"Wah, emang nyata bener bedanya anak kota ama anak

kampung seperti kita," Naniel memuji Jimmy.

Jimmy lari ke belakang, kemudian melompat

sejauh-jauhnya. Kagak seperti anak kampung yang setiap

kali terjun yang menyentuh aer kaki duluan, Jimmy

justru kepala duluan.

"Wuih, hebat, seperti di televisi," lagi-lagi Naneil

memuji Jimmy disertai anggukan temen-temennya.

Mereka semakin kagum karena setelah jatoh di aer,

Jimmy enggak langsung nimbul.

"Wuih, hebat, udah nyeburnya bagus, langsung nyelem,

lama lagi," kata Naniel diikutin anggukan

temen-temennya.

Setelah ditunggu 10 menit, ternyata Jimmy kagak

nongol-nongol. Naniel segera lari dan memberitahukan

orang kampung bahwa Jimmy tenggelam. Tiga jam

kemudian, barulah jenazah Jimmy ditemuin dalem posisi

kejepit batu.

"Kirain nyelem, ternyata tenggelam," kata Naniel,

disambut senyum kecut kawan-kawannya. (jebod)