Edward Sirait: “Sekarang Kami Dituntut Bekerja Keras”

Pesawat Batik Air jenis Boeing 737-800 NG berbenturan dengan pesawat Transnusa jenis ATR reg PK-TNJ saat take off di runway Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin, 4 April 2016 lalu. Direktur Umum PT Lion Grup Edward Sirait menyatakan, pilot pesawat Batik Air rute penerbangan Halim Perdana Kusuma menuju Bandara Hasanudin Makassar, tidak bersalah. Menurut dia, pilot sudah mendapat izin lepas landas (take off) dari petugas menara ATC (Air Traffic Controller).

Pesawat ketika sudah berada pada posisi take off ternyata sudah dirilis untuk take off sesuai prosedur. Pada saat dia jalan menuju speed yang lebih tinggi ternyata ada pesawat lain yaitu pesawat Transnusa ATR 42-600 PK-TNJ yang sedang ditarik traktor.

Senggolan pun tak bisa dihindari. Sayap sebelah kiri pesawat Batik Air mengalami kerusakan yang mengakibatkan timbul percikan api. "Pada speed yang belum terlalu tinggi. Pilot berusaha menghindari. Tapi pada akhirnya bersenggolan dan berusaha menghentikan pesawat. Pada saat berhasil dihentikan ada percikan api. Pemadam yang telah tiba di tempat, langsung menyemprotkan busa ke sayap untuk menghindari masalah yang besar," kata Edward

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai masalah itu dan hal lain terkait kelompok Lion ini, Korankota menurunkannya dalam bentuk tanya jawab.

Bagaimana benturan kedua pesawat itu terjadi?

Saya bukan pilotnya, yang pasti dia (pilot) bilang gini 'itu saya (pilot) jaraknya 200 meter, enggak kelihatan (ada pesawat di runway). Setelah diizinkan take off oleh Air Traffic Center (ATC), pilot memutuskan untuk take off. Namun tiba-tiba pilot melihat ada satu benda di runway.

Begitu melihat ada benda, pilot berusaha menghindar dan memberhentikan pesawat ketika dia merasakan ada benturan.

Kondisi pilot bagaimana?

Saat ini Lion Grup memutuskan untuk mengistirahatkan sementara pilot pesawat Batik Air PK-LBS. Hingga waktu yang belum ditentukan, pilot tersebut belum diperbolehkan terbang.

Pilot Batik Air PK-LBS memiliki rekam jejak yang baik. Pilot tersebut sudah memiliki 10.000 jam terbang.

Apa langkah selanjutnya?

Kami menunggu hasil penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait insiden tabrakan BatikAir dan TransNusa di Bandara Halim Perdanakusuma.

Kondisi penumpang yang berjumlah 49 orang itu bagaimana?

Mereka sehat walafiat. Ada tiga penumpang shock dibawa ke RS untuk pengecekan.

Kemudian 33 penumpang telah diterbangkan ke Makassar, dan menyusul enam penumpang lainnya pada Selasa (05/04) sore. Sementara sembilan penumpang dewasa dan satu anak-anak membatalkan penerbangan mereka.

Kami memberikan kompensasi berupa hotel untuk menginap, dan yang tidak jadi terbang mendapatkan kompensasi 100 persen.

Bagaimana dengan pihak yang menyebut Lion Air sebagai maskapai yang "hobi delay" ?

Kalau delay, iya. Lion Air terbang 500-600 flight per hari dan dari situ 60-80 penerbangan mengalami delay. Hal itu kami pelajari terus, bagaimana meminimalkan, termasuk melakukan perbaikan rotasi pesawat.

Membandingkan dengan maskapai lain yang masih satu grup dengan Lion Air , yaitu Batik Air, sebenarnya bisa saja keterlambatan-keterlambatan penerbangan Lion Air dikurangi.

Tapi kenapa bisa (Lion sering delay)? Memang produk Lion itu kami buat ketat, biar bisa masuk skema produksi yang memang mumpuni.

Bagaimana dengan rasio antara jumlah pilot dengan armada yang dimiliki Lion Air?

Setiap penambahan pesawat, manajemen wajib menambah kru termasuk pilot. Kalau enggak ada krunya, ya kita enggak dapat izin nambah pesawat. Tapi kalau tiba-tiba ada pilot sakit dalam jumlah banyak bersamaan, itu mungkin saja terjadi.

Dua tahun sejak 2014, on time performance (OTP) atau kinerja ketepatan waktu Lion Air tercatat 76 persen. Pihak manajemen menyatakan bahwa angka tersebut masih bisa ditoleransi, lantaran maskapai terbaik di dunia pun OTP-nya maksimal 95 persen.

Dan itu (100 persen) enggak mungkin tercapai. (Karena) Ada faktor cuaca dan kerusakan pesawat, ada faktor operasional bandara. Belum lagi di Indonesia, ada banjir, hujan.

Apa kendala terbang di atas jam 10 malam?

Ada tiga kendalanya. Pertama orang Indonesia belum biasa. Ini harus kami proses. Kami sudah bikin terbang jam dua, landing jam enam di Kupang. Kami sudah coba ke Manado night flight. Kami juga sudah coba ke Jayapura dan Ambon. Ini juga dalam rangka mengubah.

Tetapi, hambatan yang kedua, coba dicek jam operasi bandara. Selain lima bandara besar, jam berapa mereka tutup. Akhirnya, kami juga sulit membuat night flight yang slotnya masih ada. Sebab, kami ini masih kayak burung. Terbang pagi cari makan, balik sore, habis itu tidur.

Nah, ini gimana kami. Apakah diam, atau meratapi? Itulah kenapa kami kejar minimum, jangan stuck. Kalau Cengkareng bisa naik jadi 40 juta, minimum kami bisa tambah 11 juta dari Halim. Agak tenang, minimal lima tahun ini kami sambil memacu pembangunan entah Karawang, entah Lebak.

Bagaimana dengan anggapan Lion menguasai semua sektor penerbangan?

Ada yang bilang, dia lagi, dia lagi, dari hilir sampai hulu menguasai. Tetapi, kalau tidak ada orang yang buat bagaimana? Misalnya kami bikin sekolah pilot, orang bilang, dia lagi. Padahal kami butuh pilot, kalau pun kami tidak butuh lebih, bisa salurkan mereka ke luar negeri juga lebih terhormat, ada pangkatnya, dia datang pakai koper keren.

Sebenarnya, semenjak UU no 1 tentang penerbangan itu, orang bergeliat. Tetapi, tidak gampang masuk karena dia takut nanti siapa yang jamin. Yang kedua, ada perasaan takut kalau Halim ini dibangun Lion, akan pindah ke sini semua. Ini berapa sih, paling 17 parking state. Pesawat kami yang masuk ke Jakarta dalam satu jam kurang lebih 60 pesawat dan itu akan bertambah terus sampai 75 pesawat. Nah, 15 lagi taruh di mana?

Coba Anda datang ke bandara jam dua, bandara itu sudah kayak parkir mobil, baris di mana-mana. Sekarang memang ada pembebasan di Cengkareng, terminal, tetapi kapasitas take off-landing kan tidak ada. Runway tidak ada dan mereka mencoba membebaskan dan perlawanan dari penduduk kenceng.

Dari sejumlah bandara yang ditawarkan pemerintah, apakah tidak ada yang berminat?

Setahu saya sampai hari ini belum. Sebenarnya ini yang harus dipelajari, pemerintah sudah mulai mengajak swasta masuk ke bisnis bandara dengan menawarkan bandara, tapi kenapa tidak ada yang berminat. Berarti alasan paling utama alasan ekonomi. Alasan ekonomi ini kan ada penumpang, ada cost, termasuk berapa lama mereka kasih jangkanya.

Lion akan membangun bengkel pesawat di Batam bersama CFM, berapa total investasinya?

Total investasi Rp3,5 triliun, tetapi yang paling hebat di sana itu adalah alih teknologinya. Dan, itu cuma lima negara di dunia dan mereka tidak kasih lagi ke mana-mana. Yang dapat itu adalah Lufthansa Jerman, Turki, kalau tidak salah China, satu lagi AS. Di luar itu mereka tidak memberikan izinnya lagi.

Adakah keinginan Lion Group ekspansi ke sektor lain?

Sebenarnya kalau bicara bisnis ini, ada peluang itu datang. Tetapi, ketika peluang itu keluar dari koridor dan tidak in line terhadap bisnis kami, itu kami sangat hati-hati. Hotel itu sebenarnya in line, tetapi kami sambil belajar jadinya. Bisa saja terjadi, tetapi untuk kondisi sekarang ini tidak terlalu dipikirkan. Namun, ada saja kemungkinan, tapi itu belum. Kalau bicara bandara itu sudah makanan sehari-hari.

Lion Air seringkali di bully di media sosial, bagaimana menanggappi itu?

Kami menyadari itu (sorotan publik). Lion terus berusaha memperbaikinya. Itu menjadi prioritas kami, bagaimana membuat semua jadwal kami on time. Bagaimana pun, media sosial kan menjadi perhatian atau bahkan pegangan di era sekarang. Satu penumpang kami bicara di media sosial, yang lain menimpali, sudah.. Selesailah Lion, jadi trending topic.

Bully maupun cemoohan yang dilakukan oleh publik di media sosial tidak berpengaruh terhadap kredibilitas maupun pendapatan Lion Air. Namun, cemoohan itu berpengaruh terhadap mental para karyawan Lion Air. Ya menurut saya sih nggak. Tapi bagi anak-anak (karyawan) ya berpengaruh lah. Intinya sekarang, memang kami yang dituntut bekerja keras.

Menyendiri

Lelaki kelahiran Tapanuli, Sumatera Utara, 11 Oktober 1962 ini, boleh dikata memiliki kesibukan yang padat. Menjabat sebagai Director Of General Affair Lion Air tentunya cukup melelahkan. Oleh karena itu, Edward yang biasa dipanggil Edo ini selalu berusaha memanfaatkan waktu liburan dan senggang yang dimiliki sebaik-baiknya.

Untuk menghapus penat dan melupakan rutinitas bekerja, dia berlibur ke luar kota seorang diri. Bagi dia, orang terkadang harus menyadari bahwa dia punya dirinya sendiri dan tidak perlu melibatkan orang lain. Orang tidak harus selalu dan terus bersama keluarga dan orang-orang terdekatnya.

“Saat sendiri, kita perlu me-recharge diri. Entah itu dengan berjalan-jalan ke pantai atau ke mana pun tanpa keluarga. Saya pernah ke Bali sendiri. Terus, saya ke Kuta pakai celana pendek, duduk di pinggir pantai tanpa baju, sambil pakai kaca mata hitam kayak bule ‘hitam’,” ujar Edward dalam sebuah kesempatan.

Namun, dia tak butuh waktu lama untuk menjalani ritual menyendirinya tersebut. Hal itu dilakukan sekadar untuk menghapuskan penat dari rutinitas dan kemudian kembali bekerja dengan penuh semangat. Dengan kebiasaannya itu, Edward mengaku seringkali merasakan energi baru yang mengalir ke tubuhnya.

Menurut dia, keluarganya tidak pernah merasa keberatan dengan kebiasaannya tersebut. Bahkan, anak-anak dan istrinya sangat mengerti dan memberikan kesempatan kepadanya untuk keluar sementara waktu dari perannya sebagai seorang ayah dan suami.

Menurut dia, hal itu terkadag perlu dilakukannya karena akan memuaskan dirinya sendiri. Sebab, jika liburan bersama keluarga, dia akan tetap memiliki peran sebagai kepala keluarga, suami, dan ayah.

“Berbeda, kalau kita liburan sendiri karena benar-benar akan menjadi diri sendiri,” terang dia.

Selain meluangkan waktu berlibur seorang diri ke luar kota, dia selalu memanfaatkan waktu senggangnya di Jakarta dengan baik. “Kadang, sepulang kantor, saya sempatkan mampir ke warung pinggir jalan untuk sekedar ngopi-ngopi. Setelah itu, saya baru pulang ke rumah dan beristirahat agar besoknya bisa bekerja dengan fresh lagi,” paparnya.

Namun, pada akhir pekan, ia selalu berupaya untuk menghabiskan waktu bersama istri, dua putri, dan seorang putranya.

“Pasti, terutama pada hari Minggu, kami selalu ke gereja bersama-sama. Hari Sabtu, kami usahakan nonton atau makan bersama, kecuali kalau saya keluar daerah. Dalam sebulan, setidaknya kami bisa tiga kali ke gereja bersama-sama. Jadi, sekali saja saya berani bolos dalam sebulan dengan mereka,” jelas Edward.

Aktivitas pada hari Sabtu bersama keluarga tidak hanya dilalui dengan acara nonton atau makan bersama keluarga. Dia juga kerap mengajak keluarganya memasak bersama di rumah.

Sementara itu, dalam urusan kerja, Edward, selalu berusaha memberikan yang terbaik dan itu juga mulai ditanamkan kepada anak-anaknya. “Kalau bekerja, kita pasti dapat upah, berbuat baik, pasti ada penilaiannya. Dengan posisi saat ini, menurut saya, yang penting bekerja dengan baik dan pekerjaan kita dinilai dengan baik. Itu pemikiran linear saja,” katanya.

Yang paling utama, lanjut dia, bagaimana dia memberikan kontribusi terbaik kepada perusahaan. Dan, itu pun telah dibuktikan Edward dengan loyalitasnya selama menjadi director of General Affair Lion Air sekaligus menjadi head of public relations di maskapai penerbangan murah (low cost carrier/(LCC) yang didirikan oleh Rusdi Kirana pada 1999 ini.

Dia mengaku, tak pernah terbersit untuk berkarir di perusahaan maskapai penerbangan. Alumni Universitas Kristen Indonesia (UKI) ini justru mengawali karier sebagai asisten dosen di almamaternya, Fakultas Ekonomi UKI, Jakarta pada 1985-1987. Di sana, ia sempat menjadi dosen freelance (1987-1995), sebelum akhirnya memulai karier di maskapai pelat merah PT Merpati Nusantara Airlines (Persero).

Selama 11 tahun berkarier di Merpati, berbagai posisi didudukinya. Mengawali karier sebagai karyawan biasa selama dua tahun, Edo pernah menjadi head of Division The Main Cost pada 1991. Akhirnya, tahun 2000, dia mengakhiri masa kerjanya di Merpati sebagai general manager of Internal Audit Division. Setelah itu, dia pindah ke Lion Air dengan menduduki posisi sebagai director of General Affair sejak 2000 hingga sekarang.

Kepindahan Edward ke maskapai dengan kode penerbangan JT yang kala itu baru beroperasi memang cukup berani. Ketika itu, Lion Air merupakan maskapai baru dan belum memiliki track record yang bagus. Kondisnya berbeda dengan Merpati, yang saat itu merupakan maskapai pelat merah tergolong sukses.

Apalagi, dunia penerbangan, diakuinya tidak mudah. Namun, itu tak mematahkan keinginannya untuk berkarir di maskapai baru itu. Dia justru bersemangat untuk bertekad maju dan berhasil, terutama setelah keluar dari Merpati tersebut. Oidc/jay

Biodata

Nama: Edward Sirait

Tempat/tanggal lahir: Tapanuli, 11 Oktober 1962

Status: Menikah, tiga anak

Pendidikan:

-SD di Naromonda Porsea

-SMP Bulungan

-SMA 56 Kuningan

-Fakultas Ekonomi Universitas Kristen

Indonesia, Jakarta (1986)

Karir

-1987-1995: Dosen freelance

-1989: PT Merpati Nusantara Airlines

-General Manager Divisi Audit Internal

-PT Merpati Nusantara Airlines

-Direktur General Affairs PT Lion

-Mentari Airlines

-Direktur Umum Lion Air