Kabareskrim Polri, Komjen Ari Dono Sukmanto: “Kasus-kasus Berdampak Besar Kita Ada Percepatan”

Nama Irjen Pol Ari Dono Sukmanto memang belum banyak diketahui publik. Namun, jabatannya sebagai Kabareskrim, sedikit banyak akan mendorong pria kelahiran Bogor, Jawa Barat, 23 Desember 1961 untuk menghiasi media cetak dan elektronik dalam beberapa bulan ke depan. Apalagi jam terbangnya di bidang reserse bisa dibilang meyakinkan.

Pria yang tak lama lagi akan menyandang bintang tiga ini merupakan lulusan Akademi Kepolisian tahun 1985. Kariernya mulai megkilap sejak 2003, saat menjabat sebagai Kapolres Serang, Banten. Kemudian pada 2004 – 2006, Ari ditugaskan di Direskrim Polda DIY.

Tahun 2007, ia masuk di jajaran Direskrim Polda Jabar. Dua tahun kemudian pada 2009, dia ditunjuk menjadi penyidik utama di Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri. Hanya setahun bertugas dan pada 2010, Ari mendapat tugas baru sebagai Kabag Instalfor Puslabfor Bareskrim Polri.

Tahun 2011 tugas baru harus diembannya sebaga Wakapolda Sulawesi Tengah. Tak lama dia bertugas di tempat itu, langsung ditarik lagi ke Bareskrim Polri untuk menjadi Direktur Tindak Pidana Umum. Pada 2013, pria berpenampilan kalem itu diangkat menjadi Kapolda Sulteng.

Setahun kemudian, pada 2014, Ari berpindah lagi ke Jakarta menjadi Staf Ahli Manajemen Kapolri. Memasuki awal 2016, ia ditunjuk menjadi Wakabareskrim mendampingi Kabareskrim Anang Iskandar. Dan tidak sampai setahun Ari dipercaya menjadi Kabareskrim menggantikan Komjen Anang.

Kapolri Jenderal Badrodin mengatakan alasannya menunjuk Ari menjadi Kabareskrim diantaranya adalah pengalaman. “Pengalaman kerja Pak Ari yang malang melintang di bidang reserse mumpuni untuk menjadi orang nomor satu di Bareskrim. Harapannya, tentu lebih baik karena lebih muda, lebih energik dan bisa lebih baik dalam penegakan hukum,” kata Kapolri Jendral Pol Barodin Haiti mengenai Kabareskrim yang baru ini.

Untuk mengetahui lebih dekat dengan sosok yang satu ini soal tugas dan tangungjawabnya, Korankota menurunkannya dalam bentuk tanya jawab.

Apa rencana dalam waktu dekat?

Sebagai awal, akan melakukan pemantauan, karena memasuki bulan puasa dan hari raya Idul Fitri. Dan momentum ini biasanya dii¬kuti dengan peningkatan harga sembako.

Akan melakukan operasi pasar?

Tentu sudah dekat Hari Raya, para spekulan-lah sasaran kami. Spekulan sembako yang akan kami sasar.

Kenapa mereka?

Polri harus berani menin¬dak spekulan sembako karena menyengsarakan masyarakat dengan harga yang tinggi. Nantinya kami akan berkoor¬dinasi dengan Kementerian Perekonomian, Kementerian Perdagangan, dan sejumlah ke¬menterian terkait untuk menin¬daklanjutinya. Seandainya kalau ada bukti, ya kita hajar.

Pejabat sebelumnya disebut bikin gaduh karena mengungkap sebuah kasus. Bagaimana melihat itu?

Tentunya yang paling inti, penegakan hukum, kita tidak ingin membuat gaduh dengan kegaduhan situasi nasional.

Itu sejalan dengan instruksi Kapolri. Dan kita khawatir juga akan menggangu perekonomian. Apa yang jadi program pemer¬intah terhambat nanti. Kita di Bareskrim akan mendukung apa yang jadi program Kapolri dan melaksanakan perintah Kapolri.

Apakah ada target khusus?

Kami menargetkan sejumlah kasus segera dituntaskan dalam waktu dekat. Salah satunya ka¬sus dugaan korupsi pengadaan 10 unit crane di PT Pelindo II.

Kasus di Pelindo II masih proses. Dalam waktu tidak ter¬lalu lama bakal dituntaskan. Berkas penyidikan kasus Pelindo II sudah selesai dan saat ini tengah diperiksa Kejaksaan. Selanjutnya, Kejaksaan akan menentukan apakah berkasnya kurang atau sudah P21 alias lengkap sehingga siap disidangkan.

Tentunya nanti juga menunggu bagaimana bunyi dari keterangan yang kami dapat dari Kejaksaan dan bukti-bukti yang ada. Kalau memang ada bukti bisa berkem¬bang, kalau tidak ada ya cukup sampai di situ.

Hal lain?

Selain itu juga ada kasus lain yang pastinya kami akan menin¬daklanjuti untuk segera dituntas¬kan. Ini kan sudah banyak yang hampir selesai. Tinggal menung¬gu kerugian negara saja.

Menurut anda, apa kasus yang paling menonjol?

Kita enggak boleh membeda-bedakan kasus, nanti yang punya kasus marah kalau dibeda-bedakan, (kasus) punya dia enggak dianggap. Kasus-kasus kami perlakukan sama. Skala prioritas pasti ada, kasus-kasus yang berdampak besar kita ada percepatan, ada satgas-satgas yang dibentuk. Kasus-kasus berdampak besar seperti TPPI (kasus korupsi penjualan kondensat bagian negara oleh PT Trans Pacific Petrochemical Indotama/TPPI -red), itu sudah koreksi dari kejaksaan, sudah kita kembalikan (ke Kejaksaan), masih kita tunggu lagi.

Apa tantangan seorang Kabareskrim?

Kita sekarang banyak tunggakan kasus. Kasusnya bertambah tapi penyidiknya tambahnya enggak banyak. Bisa dibilang kurang untuk bisa mengatasi penambahan kasus-kasus tersebut. (Penyidik) kurang dalam jumlah dan kurang dalam kemampuan.

Untuk mempercepat penyelesaian perkara sekaligus bisa melatih penyidik-penyidik, kita coba dengan menarik penyidik-penyidik daerah untuk kita berikan pelatihan sekalian menyelesaikan kasus-kasus tunggakan bertahap berjenjang, kita minta dari Polda-polda menangani kasus-kasus di sini, sekalian dia dilatih dan menyelesaikan kasus. Dia kembali ke asalnya, ilmunya nambah, perkara di Bareskrim selesai. Begitu terus sampai ke Polres dan Polsek.

Tunjuk Orang Lain

Inspektur Jenderal Pol Ari Dono Sukmanto baru dua bulan menduduki jabatannya sebagai Wakabareskrim. Ia menggantikan Wakabareskrim sebelumnya yakni Irjen Pol Syahrul Mama yang purna tugas.

Karenanya dia tak mengira jika jabatan Kabareskrim diberikan kepada dirinya. Sebab sebelumnya, justru dirinyalah yang menyodorkan sejumlah nama untuk dicalonkan sebagai Kabareskrim.

Mulai dari juniornya di Akpol, teman seangkatan di Akpol angkatan 85, hingga seniornya di Akpol.

Menurut dia, semula Anang meminta masukannya perihal nama-nama perwira tinggi bintang dua dan tiga yang layak menjadi Kabareskrim penerusnya.

Anang menyampaikan itu setelah dimintai pendapatnya oleh Badrodin Haiti selaku Kapolri.

masukannya.

"Sama juga seperti waktu saya masih Wakabareskrim ditanya oleh Kapolri, siapa calon Kabareskrim," ungkapnya.

Lantas, Ari menyampaikan beberapa nama perwira tinggi (pati) yang layak menjadi Kabareskrim kepada Badrodin dan Anang.

Ia menyampaikan kepada kedua atasannya itu, diharapkan Kabareskrim adalah pati yang mempunyai latar belakang dan pengalaman bidang reserse kriminal (reskrim).

Nama yang diajukan Ari saat itu diantaranya Kapolda Bali, Irjen Sugeng Suprianto (Akpol Angkatan 83); Gubernur Akpol Anas Yusuf (Angkatan 84); Kadiv Propam Polri, Irjen Mochamad Iriawan atau Iwan Bule (Angkatan 84); Staf Ahli Bidang Ideologi dan Konstitusi Kemenko Polhukam, Irjen Carlo Brix Tewu (Angkatan 85).

Kemudian Deputi Penindakan KPK, Irjen Heru Winarko (Angkatan 85); Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Arman Depari; dan Kapolda Metro Jaya, Irjen Moechgiyarto (angkatan 86).

"Itu yang saya sampaikan ke Kapolri. Dan saya tidak sebutkan nama saya," ujarnya.

Ari mengaku tidak menyodorkan nama diri sendiri sebagai calon Kabareskrim, baik kepada Badrodin maupun Anang Iskandar.

Sebab, hal iu tidak etis dan akan menjadi tidak objektif meskipun dirinya punya banyak

pengalaman di bidang reskrim.

"Nggak lah, mana mungkin saya menawarkan diri. Saya nggak begitu. Saya tahunya kerja saja. Dari dulu saya tidak pernah mencari jabatan atau naik pangkat," tandasnya.Odtc/jay

Biodata

Nama: Irjen Pol. Drs. H. Ari Dono Sukmanto S.H. M.Si.

Tempat Lahir : Bogor, 23 Desember 1961

Anak: 4 Orang

Pendidikan

Akpol 1985

PTIK

Sespim

-Kasatserse Hulu Sungai Kalsel

-Kasatserse Kota Baru, Kalsel

-Kabag Serse Tipikor, Kalteng

-Wakapolres Kapuas, Kalteng

-Kabag Serse Tipidter, Polda Sumut

-Kapolres Sibolga

- Kapolres Serang (2003)

-Direskrim Polda Banten

-Kapoltabes Denpasar

- Direskrim Polda DIY

- Direskrim Polda Jabar (2007)

- Penyidik Utama Tk II Dit V/Tipiter Bareskrim Polri (2009)

- Kabag Instalfor Puslabfor Bareskrim Polri (2010)

- Wakapolda Sulawesi Tengah (2011)

- Dirtipidum Bareskrim Polri (2011)

- Kapolda Sulawesi Tengah (2013)

- Staf Ahli Manajemen Kapolri (2014)

- Wakil Kepala Bareskrim (dilantik pada 3 Maret 2016)

- Kepala Bareskrim (31 Mei 2016)