Tito Karnavian: “Penempatan Jabatan di Polri Akan Mengutamakan Kompetensi dan Visi Reformasi”

Komisi III DPR RI telah bertemu dengan calon Kapolri Komjen Tito Karnavian. Dalam kesempatan pertemuan, Tito mengatakan, bahwa Komisi III lebih banyak melontarkan pertanyaan kepada istrinya Tri Suswati.

"Banyak pertanyaan tetapi kebanyakan ke keluarga, istri saya. Yang ditanyakan ke saya pun tentang keluarga saya. Saya menyampaikan kepada Komisi III, kok ini seperti yang fit and proper istri saya hehe," seloroh Tito saat diwawancarai wartawan di kediamannnya di Kompleks Polri Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (22/6).

Tito menjelaskan, tujuan utama Komisi III datang ke kediamannya untuk mendalami kehidupan pribadi dirinya di luar hal-hal yang menyangkut visi-misi dan berkaitan dengan jabatan polisi.

Mantan Kapolda Papua ini menyayangkan ketiga anaknya tidak bisa hadir karena tengah ada urusan studi di Singapura. Namun melalui Skype, Tito menceritakan, anaknya mendukung penuh kariernya.

“Tadi ada yang sudah dihubungi melalui Skype dan anak saya sudah menyatakan dukungannya, orang tuanya dicalonkan menjadi pimpinan Polri," tutur Tito.

Sementara Juru bicara presiden, Johan Budi mengatakan pertimbangan presiden dalam memilih Tito Karnavian adalah untuk meningkatkan profesionalisme Polri sebagai pengayom masyarakat. Jokowi juga ingin memperbaiki kualitas penegakan hukum. Tito dianggap sosok yang tepat. "Terutama terhadap kejahatan luar biasa seperti terorisme, narkoba maupun korupsi sekaligus juga meningkatkan sinergi dengan penegak hukum lain," ujar Johan.

Dipilihnya Tito juga dianggap sebagai jalan tengah, antara kekuatan yang ingin memperpanjang masa jabatan Kapolri Badrodin Haiti, mereka yang kuat mendorong Wakapolri Komjen Budi Gunawan, dan pilihan lain di antara jenderal berbintang tiga yang ada.

Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana persiapan dan pandangannya soal penunjukannya sebagai calon Kapolri, Korankota menurukannya dalam bentuk tanya jawab.

Diajukan sebagai calon tunggal bagaimana perasaannya?

Bagi saya ini adalah kepercayaan dari Presiden dan amanah dari Allah SWT. Saya akan laksanakan tugas dengan seoptimal mungkin untuk bangsa, negara dan masyarakat. 

Apa ada persiapan khusus?

Masih ada proses yang harus dijalani. Semoga saya mendapat dukungan semua pihak. 

Bagaimana dengan silang pendapat terkait senioritas kepemimpinan dalam tubuh Polri?

Masalah senior itu penting, tapi yang utama adalah interpersonal skill. Yaitu membangun hubungan dengan semua pihak, tapi bukan berarti menyenangkan semua pihak. 

Apakah itu juga akan diterapkan dalam penempatan jabatan?

Penempatan jabatan di Polri tetap akan mengutamakan kompetensi dan visi reformasi. Jenderal senior yang tak punya kompetensi tentu tak akan diberi jabatan. Bukan berarti senior tak dapat tempat. Tapi yang punya kompetensi dan visi reformasi.

Senioritas bukan jaminan seseorang pasti mendapatkan respek dari bawahannya. Yang terpenting, pemimpin tersebut bisa menunjukkan komitmen dan kompeten dalam bertugas. Tidak menjamin senioritas pasti dapat loyalitas. Banyak organisasi yang senior bisa saja tidak diikuti juniornya. Junior pun kalau tunjukkan komitmen, juga dapat diikuti semuanya. Hubungan kami sangat baik dengan senior-senior. Di Polda Metro juga sama. Wakil saya angkatan 83, orang ketiganya 85, saya angkatan 87. 

Bertemu dengan para senior?

Banyak. Setelah diputuskan saya langsung mendatangi rumah-rumah senior. Saya nggak bisa sebutkan, banyak sekali senior-senior. 

Bagaimana responnya?

Dan dari komunikasi kita, saya dapat pesan, prinsip senior mendukung. Tapi saya harus menunjukkan leadership yang dapat diterima. 

Apakah benar sempat menolak jadi Kapolri?

Benar. Saya memang pernah menolak dengan halus ke Kapolri. Saya sampaikan maupun ke Pak Menko Polhukam. 

Pada prinsipnya saya junior, saya mengharapkan senior-senior yang maju lebih dahulu, sehingga saya menolak secara halus ketika Kapolri menanyakan kesediaan saya. Sebaiknya senior yang diberi tempat. Saya merasa tahu diri masih 6-7 tahun lagi pensiun.

Terus menerima?

 

Saya sendiri tidak tahu apakah nama saya masuk dalam Wanjakti atau tidak. Saya justru tahunya dari media, saya tidak mengikuti apa yang terjadi di Wanjakti. Kemudian saya baru dikasih tahu tiga hari yang lalu oleh Mensesneg dan Setkab. Kemudian ini perintah dan saya laksanakan dengan maksimal nantinya.

Saat diberi tahu ada keputusan, sebagai prajurit, tidak boleh membantah. Saya memahami saya termasuk junior dalam generasi Kepolisian. Tapi ini perintah. Prajurit tidak boleh melanggar perintah. Ketika presiden memilih seseorang, tradisi Polri/TNI itu adalah loyal pada pimpinan. Pasti akan saya lakukan semaksimal mungkin. 

Seberapa jauh kedekatan dengan Menko Polhukam?

Saya baru kerjasama dengan Pak Luhut setelah jadi kepala BNPT karena kepala BNPT ketua hariannya adalah Menko Polhukam. Bukan hanya saya, kepala BNN, Bakamla, Kemenkumham, ini yang di bawah. 

Jika disetujui DPR, apa program awal?

Reformasi internal. Artinya reformasi birokrasi, mentalitas pelayanan masyarakat yang lebih baik, menekan budaya korupsi dan pelanggaran-pelanggaran anggota

Bagaimana metodanya?

Membuat sistem mekanisme yang bagus. Baik di bidang rekrutmen, pembinaan karir, dan reward and punishment. Kalau ini berjalan baik maka outputnya akan baik. Publik akan merasakan dan profesionalisme penegakan hukum.

Anak Wartawan

Tak banyak yang tahu bahwa ayah Tito Karnavian adalah seorang wartawan.

Ya, Achmad Saleh, ayah Tito Karnavian, merupakan mantan wartawan Radio Republik Indonesia (RRI). Dan, kakeknya Muhammad Saleh bin Mualim, adalah orang asli Surabaya alias Arek Suroboyo.

Ayah Tito, masih ingat betul bagaimana keluarganya hijrah dari Surabaya. Medio 1930, kata Saleh, sang ayah meninggalkan rumahnya di Jalan Wonorejo Gg II, Pasar Kembang, Surabaya merantau ke Palembang.

Di Palembang, kakeknya Tito itu ikut bekerja membangun Ledeng (sekarang Kantor Wali Kota Palembang). Kemudian pernah juga ikut membangun Jembatan Pasar Indralaya dan membangun terowongan kereta api Gunung Gajah jalur Palembang-Lahat.

Selama merantau dan bekerja sebagai kuli, Muhammad Saleh bin Mualim menikah dengan Amisah binti Husin, nenek Tito Karnavian, dan dikaruniai tiga orang anak, salah satunya dirinya.

Sedangkan dirinya, kemudian menikah dengan Kordiyah di Sumatera Selatan. Dari pernikahan ini, dikaruniai empat anak, yaitu Dian Natalisa, M Tito Karnavian, Iwan Dakota dan Viva Argentina.

Menurut Saleh, semasa ikut sekolah di akademi kepolisian, Tito kerap ditanya asal daerahnya. "Saat dewasa, Tito sekolah di akademi kepolisian dan banyak dari rekan-rekannya bertanya apakah Tito ini Wong Palembang atau asli Jawa. Enggak ada yang salah dari pertanyaan ini. Tito memang lahir di Palembang, tapi kakeknya asli Surabaya, asli orang Jawa," ujar Saleh beberapa waktu lalu.

Tito Karnavian, lahir di Palembang pada 26 Oktober1964.

Dia adalah seorang perwira Kepolisian Negara Republik Indonesia, yang ikut bergabung dengan tim yang berhasil membongkar jaringan teroris pimpinan Noordin Moch Top. Karena itu, Tito Karnavian naik pangkat menjadi Brigjen Pol. dan naik jabatan menjadi Kepala Densus 88 Antiteror Mabes Polri. Tito Karnavian menggantikan Komjen Pol. Saud Usman Nasution, yang menjabat Direktur I Keamanan dan Transnasional Bareskrim Mabes Polri.

Kemudian melalui TR Kapolri 14 Maret 2016 Komjen. Pol. Tito Karnavian telah diangkat menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menggantikan Komjen. Pol. Saud Usman Nasution yang memasuki masa pensiun.

Tak beselang lama, 15 Juni 2016, Presiden Joko Widodo mengirim surat kepada DPR menunjuk Tito sebagai calon tunggal Kapolri menggantikan Badroidin Haiti yang akan segera pensiun. Ini mematahkan tradisi senioritas di tubuh Polri karena Tito merupakan Akpol angkatan 1987. Bila dihitung dari Kapolri sekarang, dia melompati lima angkatan karena Badrodin merupakan Akpol 1982.

Tito Karnavian mengenyam pendidikan di SMAN 2 Palembang. Tito melanjutkan pendidikan Akpol tahun 1987. Tito menyelesaikan pendidikan di Universitas Exeter di Inggris tahun 1993 dan meraih gelar MA dalam bidang Police Studies, dan menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) di Jakarta tahun 1996 dan meraih Strata 1 dalam bidang "Police Studies".

Tatkala duduk di kelas 3, Tito mulai mengikuti ujian perintis. Semua tes yang ia jalani lulus, mulai dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Kedokteran di Universitas Sriwijaya, Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada, dan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Empat-empatnya ia lulus, tapi yang dipilih Akademi Kepolisian.

Keputusan Kepala Negara untuk mengajukan Tito Karnavian sebagai calon tunggal Kapolri bukan tanpa kritik. Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane, misalnya, menilai penunjukan Tito Karnavian akan berdampak kurang baik bagi sistem kaderisasi Polri mengingat ada lima angkatan yang lebih senior daripada Tito yang bisa dipertimbangkan menjadi Kapolri.

Pane tidak menampik bahwa keputusan tentang pencalonan Tito Karnavian sebagai calon tunggal Kapolri itu merupakan hak prerogatif Presiden, namun Kepala Negara juga selayaknya memperhatikan jenjang karir dan kepangkatan seperti yang diamanatkan Pasal 11 UU No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian. 

"Artinya kalau Tito dijadikan Kapolri tentunya harus diperhatikan dia masih terlalu muda. Pensiunnya pun masih lama, tahun 2022," kata Pane dalam satu pernyataannya. 

Di sisi lain, Ketua Umum Partai Demokrat yang juga presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono berpendapat keputusan Presiden Joko Widodo tersebut sudah tepat.Oberbagai sumber

Biodata

Nama : Muhammad Tito Karnavian

Tempat, tgl lahir: Palembang, 26 Oktober 1964

Istri: Tri Suswati

Anak: 3 Orang.

Pendidikan:

SD Xaverius IV di Palembang (1976)

SMP Xaverius 2 di Palembang (1980)

SMA Negeri 2 Palembang (1983)

Akademi Kepolisian (1987); Penerima bintang Adhi Makayasa sebagai lulusan Akpol terbaik.[2]

Master of Arts (M.A.) in Police Studies, University of Exeter, UK (1993)

Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) (1996); Penerima bintang Wiyata Cendekia sebagai lulusan PTIK terbaik

Royal New Zealand Air Force Command & Staff College, Auckland, New Zealand (Sesko) (1998) 

Bachelor of Arts (B.A.) in Strategic Studies, Massey University, New Zealand (1998)

 Sespim Pol, Lembang (2000)

Lemhannas RI PPSA XVII (2011) penerima Bintang Seroja sebagai peserta Lemhanas terbaik.

Ph.D in Strategic Studies with interest on Terrorism and Islamist Radicalization at S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapore (magna cum laude) (2013)

Karir

Perwira Samapta Polres Metro Jakarta Pusat (1987)

Kanit Jatanras Reserse Polres Metro Jakarta Pusat (1987–1991)

Wakapolsek Metro Senen Polres Metro Jakarta Pusat (1991–1992)

Wakapolsek Metro Sawah Besar Polres Metro Jakarta Pusat

Sespri Kapolda Metro Jaya (1996)

Kapolsek Metro Cempaka Putih Polres Metro Jakarta Pusat (1996–1997)

Sespri Kapolri (1997–1999)

Kasat Serse Ekonomi Reserse Polda Metro Jaya (1999–2000)

Kasat Serse Umum Reserse Polda Metro Jaya (2000–2002)

Kasat Serse Tipiter Reserse Polda Sulawesi Selatan (2002)

Koorsespri Kapolda Metro Jaya (2002 – 2003)

Kasat Serse Keamanan Negara Reserse Polda Metro Jaya (2003 – 2005)

Kaden 88 Anti Teror Polda Metro Jaya (2004 – 2005)

Kapolres Serang Polda Banten (2005)

Kasubden Bantuan Densus 88 Anti Teror Polri (2005)

Kasubden Penindak Densus 88 Anti Teror Polri (2006)

Kasubden Intelijen Densus 88 Anti Teror Polri (2006 – 2009)

Kadensus 88 Anti Teror Polri (2009-2010)

Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) (2011-21 Sept 2012)

Kapolda Papua (21 Sept 2012-16 Juli 2014)

Asrena Polri (16 Juli 2014-12 Juni 2015)

Kapolda Metro Jaya (12 Juni 2015-16 Maret 2016)

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) (16 Maret 2016-sekarang)

Calon Tunggal Kapolri