Sutiyoso: Mungkin Gedung Putih Mendapat Masukan Panglima TNI Dekat dengan Islam Garis Keras

KABAR Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo ditolak masuk ke Amerika Serikat, bikin kaget jagat politik di Tanah Air. Namun peristiwa nyaris sama pernah dialami senior Jenderal TNI Gatot yakni Letjen TNI (Purn) Sutiyoso di Australia, bahkan ketika itu peristiwa yang dialami Bang Yos- sapaan akrab Sutiyoso, lebih parah lagi. Bang Yos yang kala itu masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta menghadiri undangan dari Gubernur New South Wales sempat dijemput polisi ketika rehat di hotel. Berikut penuturan Bang Yos;

Bagaimana awalnya keja­dian tersebut?

Saya waktu itu 2006 diun­dang oleh Gubernur New South Wales, Australia. Itu saya diun­dang dalam acara resmi ken­egaraan. Nah, pada hari kedua, kan jeda untuk sesi berikutnya. Maka saya gunakan untuk is­tirahat kan. Saat saya istirahat di kamar itulah mereka masuk secara diam-diam. Bayangin polisi federal tahu-tahu sudah dekat tempat tidur saya.

Langsung saya tanya dong, kamu ini siapa? Kalian mau apa masuk secara diam-diam? Ternyata mereka mau ngundang saya ke pengadilan sebagai saksi untuk peristiwa terbunuh­nya lima wartawan di Balibo, Timor-Timor 1975 lalu. Padahal kan peristiwa itu sudah jelas pasukannya Pak Yunus, mantan menteri penerangannya Habibie. Dan dia sudah memberikan statment.

Saya sudah tiga kali ke Timor-Timor, tapi pasukan saya tidak pernah masuk Balibo. Kan cer­obohnya luar biasa ini. Harusnya kan masih ada cara-cara yang benerlah. Enggak usah masuk secara diam-diam begitu. Saya marah luar biasa saat itu.

Lalu apa yang Anda lakukan terkait hal itu?

Langsung saya suruh keluar, dan saya suruh protokoler me­nemui. Mereka tuh ngawur. Protokol mereka yang men­dampingi saya panggil ke kamar, dan saya ceritakan kejadiannya, lalu saya bilang saya tersing­gung berat.

Untuk itu saya bersikap tidak mau meneruskan lagi acaranya. Padahal malam itu akan diper­temukan dengan para pengu­saha di New South Wales, terus paginya saya harus di Canberra untuk nostalgia dengan kawan-kawan lama saya.

Karena 1989-1990 saya seko­lah di Canberra. Saat itu saya menggunakan atribut Kopassus tiap hari, tapi tidak pernah ada masalah. Kok kemudian 2006 saya diperlakukan begitu?

Apa yang pemerintah laku­kan terkait perisriwa itu?

Saya cerita begitu kepada Menteri Luar Negeri saat itu ya. Maksud saya supaya mereka mengajukan protes ke Kedubes Australia gitu kan. Karena saat itu posisi saya sebagai tamu resmi, saat itu saya ini kan pe­jabat tinggi negara, Gubernur DKI Jakarta. Yang saya sesalkan pemerintah saat itu enggak ada reaksi sedikit pun. Malah mer­eka bilang, ya sudah terseah Pak Sutiyoso saja.

Tanggapan Anda terhadap penolakan Panglima TNI ba­gaimana?

Menurut saya kemungkinan salah administrasi seperti ban­yak dibilang orang itu ndak mungkinlah itu. Untuk negeri yang sangat maju dan memiliki teknologi tinggi kesalahan sep­erti itu enggak mungkin. Yang paling mungkin itu dari Gedung Putih menurut saya.

Gedung Putih tentu masukan enggak tahu masukan dari siapa, bisa CIA, Pentagon dan lain-lain. Kalau Pentagon harusnya enggak juga kan, karena yang ngundang kan panglima bersen­jata mereka.

Menurut Anda kenapa bisa terjadi penolakan?

Mungkin Gatot ini di mata mereka dekat dengan Islam garis keras. Ini sekali lagi dugaan ya. Yang paling logic kan mana? Padahal Gatot sebagai Panglima TNI kan harus mendekati se­muanya.

Mau yang garis keras, mau yang moderat itu kan harus kami dekati sebagai aparat. Itu dugaan saya. Tapi mereka untuk hal-hal yang begitu memang sering ceroboh.

Menurut Anda apa yang harus dilakukan pemerintah terkait hal ini?

Saya rasa apa yang dilakukan pemerintah sudah on the track lah. Menlu sudah melakukan protes resmi.

Pak Gatot lalu juga mem­batalkan ke AS itu sudah bener itu. Walau sudah di­bolehkan, batalkan saja su­dah. 0 rmo