oleh

MUI Ingatkan Walikota Solo yang Legalkan Kuliner Daging Anjing

Beredar berita di media bahwa walikota Solo FX Rudi telah legalkan penjualan masakan (kuliner) daging anjing. Hal ini sangat meresahkan umat/ masyarakat pada umumnya. Terkait hal itu redaksi minta tanggapan Pengurus MUI Pusat Anton Tabah via telepon Kamis 11 Juli 2019 malam

“Kami dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) sangat terkejut jika berita itu benar. Karena itu MUI ingatkan walikota Solo harus stop kuliner daging anjing tsb. MUI sangat prihatin dengan maraknya kuliner olahan daging anjing yang diberi nama macam2 a.l rica-rica jamu atau sengsu (tongseng asu/ red), ”

Anton Tabah menilai Walikota Solo nyalahi aturan tentang penjualan daging anjing yang sudah dilarang oleh pemerintah. Pasalnya, sejak dulu daging anjing dilarang karena anjing tidak termasuk binatang ternak dan dilarang untuk dikonsumsi.

Perlakuan ini tentunya berbeda dengan daging Babi yang boleh dikomsumsi, tapi haram dimakan oleh umat muslim.

“Larangan daging Anjing tertuang dalam Surat Edaran Dirjen Peternakan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian Nomor 9874/SE/PK 420/F/09/2018 tanggal 25 September 2018. 
Karena itu seluruh pemda dan Polri dihimbau jangan ragu menindak jika ada yang melanggar aturan tsb,” tegas mantan petinggi Polri ini.

Mantan Jendral ini juga menghimbau masyarakat agar ikut aktif mencegah penjualan kuliner daging anjing yang berbahaya bagi kesehatan yang di Solo saja data terakhir sekitar 14 ribu anjing dibantai perbulan untuk konsumsi masyarakat Solo.

Data dari DMFI (Dog Meat Free Indonesia) Kota Solo dikecam dunia karena melegalkan kuliner anjing yg juga dilarang oleh WHO. 

Tentang bahaya daging anjing ini Islam telah melarang mengkonsumsinya sejak 15 abad silam seperti sabda Nabi saw 

“Kami dilarang makan daging babi dan binatang yang bertaring juga binatang berkuku tajam”*(HR.Mashur)

Karena itu MUI sangat prihatin dg kasus Solo ini diminta MUI setempat aktif mengingatkan pemerintah yang menyimpang baik diminta atau tidak diminta krn hal itu jadi tugas pokok  fungsi (tupoksi) MUI. Pungkasnya. 0 red

Facebook Comments

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *